Sebuah Pesan
"Jadi gimana jung, mau lanjut apa ngga?"
sebuah pesan masuk di HP milikku.HP made in china, yang kata orang kameranya super bagus, karena bisa membuat wajah jadi cantik. Okesip
Pesan yang membuatku bingung sungguh bingung. Ku tak tahu harus jawab apa, karena sejujurnya aku masih bingung.
Ada banyak pertimbangan dalam pikiranku.
"Lumayan looooh 3 bulan, bisa ditabung buat beli ini itu..."
"Lagian kerjaan bisa di remote, udah dikasih izin juga."
"Tapi nanti ngurus persiapan nikah gimana?"
"Tapi kayanya bisa sih aku pulang tiap weekend juga."
"Tapi ngga enak sama yang lain, pasti bakal banyak izin, terutama jadwal standby."
"Tapi lumayan juga 3 bulan, buat nambah biaya nikah, dan masih bisa saving money juga."
Aku pun membalas pesan dari supervisorku, "Kalau resign sebelum masa kontrak berakhir gimana?"
Dia pun membalas, "Janganlah, nanti susah cari penggantinya."
hmm...oke beri saya waktu untuk berpikir dulu
Aku meminta masukan dari beberapa orang, termasuk bapa, kakakku, dan dia.
Tentu saja dibarengi dengan solat istiqoroh. Karena segala sesuatu pasti telah diatur oleh-Nya.
Setelah berpikir panjang dan istiqoroh tiap malam, yang ada di pikiranku hanyalah "bapa".
Aku ingat, setiap aku pulang ke rumah, para tetangga selalu berkata "nah gitu pulang ke rumah. sering pulang ke rumah. kasian bapa ga ada yang ngurus." Aku hanya tersenyum pada tetangga, Mereka memperhatikan bapaku lebih dari aku.
Mungkin ini waktunya aku pulang ke rumah, setidaknya aku masih ada waktu tinggal bersama bapa. mungkin ini jawabannya.
Bismillah

Komentar
Posting Komentar